Mengenang Mei 98
Siang itu, udara panas menyelimuti kawasan Solo, penulis yang sedang asik bercengkrama dengan kawan-kawan di sekre LPM tiba-tiba mendapat SMS dari rekan redaksi majalah, nisa. SMS berisi jadwal untuk wawancara dengan narasumber isu majalah Kalpadruma 2008 mengenai satu dekade kerusuhan Mei, siang itu di kantor PMI Surakarta. Narasumber yang akan penulis temui memang bisa dibilang agak susah ditemui, bahkan beberapa kali penulis gagal mewawancarai narasumber yang bersangkutan meski telah membuat janji.
Melihat kesempatan untuk bisa mewawancarai narasumber, penulis bergegas mengambil handrecord dan langsung menuju lokasi wawancara, kantor PMI Surakarta. Sesampai di lokasi penulis dihadang petugas keamanan, setelah menyampaikan keperluan penulis dipersilahkan masuk ke ruang narasumber. Saat itu narasumber terlihat sedang berdiskusi kecil dengan rekan-rekan kantornya. Tak menunggu lama beliaupun menghampiri penulis dan segera saja wawancara untuk majalah kade dimulai.
Narasumber adalah Bp. Sumartono Hadinoto, Ketua Humas dan Pelayanan Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS). Setelah percakapan basabasi diawal pembicaraan, beliau bertanya alasan mengangkat isu kerusuhan Mei 98, mengingat hal ini merupakan kenangan buruk sejarah kota Solo. Seperti yang telah dimuat di berbagai media massa baik nasional maupun internasional, dan juga di internet, bahwa kerusuhan Mei 98 telah meluluhlantakan perekonomian di Indonesia (meskipun kerusuhan hanya terjadi di beberapa kota besar saja termasuk Solo). Sepanjang satu dekade pasca tragedi tersebut apa dan bagaimana perkembangan pemulihan yang telah dilaksanakan utamanya di kota Solo merupakan isu utama kade.
Solo merupakan korban politik, karena kerusuhan yang terjadi di Solo merupakan imbas dari kerusuhan yang terjadi di Jakarta. Solo disebut sebagai suhu pendek serta barometer politik di Indonesia, demikian ujar Sumartono ditanya latar belakang terjadinya kerusuhan di Solo.
Sumartono menambahkan pada saat itu kondisi perekonomian masyarakat tidak bagus sehingga sangat mudah untuk diprovokasi dan meletuslah kerusuhan Mei di Solo.
“Menurut saya ada sedikit faktor politis dibalik kerusuhan Mei di Solo, selain itu situasi ekonomi yang jelek, kalau nggak ya nggak mudah diprovokasi. Yang rugi 16 ribu orang kehilangan pekerjaan, kalo pengusaha sebagian besar telah diasuransikan” ujar Sumartono serius.
Saat kerusuhan Mei 98 memang kondisi peronomian masyarakat sedang buruk, krisis tengah melanda seantero tanah air, bahkan hampir seluruh kawasan Asia-Pasifik, sehingga masyarakat yang kesulitan ekonomi sangat mudah terprovokasi, untuk menjarah, membakar gedung dan kendaraan, hingga tindak asusila seperti pelecehan seksual terhadap kaum wanita.
Istilah barometer politik dan suhu pendek sendiri menurut Sumartono diciptakan oleh sekelompok kecil yang menginginkan Solo seperti itu, apabila terjadi kerusuhan di Solo maka akan diyakini dampaknya akan luas, seantero nusantara bisa ikut terjadi kerusuhan. Sementara istilah suhu pendek berawal dari tingkat emosi masyarakat Solo saat itu yang kurang berfikir jernih dan mudah diprovokasi,
Kenapa di Solo?
Kerusuhan besar layaknya sebuah medan pertempuran, terencana maupun tidak, sebuah kerusuhan berakibat fatal dan berdampak negatif bagi semua elemen masyarakat. Lalu kenapa kerusuhan yang terjadi Mei 98 (di Jakarta) juga terjadi di Solo.
Solo merupakan kota budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya seperti gotong royong (kerjasama) dan toleransi, lalu mengapa kerusuhan meletus di Solo?
Menyinggung hal tsb, Sumartono menyebutkan bahwa kondisi perekonomian mengambil peran penting, ditambah dengan bumbu politik sehingga masyarakat pinggir kota (suburban) terprovokasi dan terjadilah bakar-bakaran, penjarahan dan tindak kekerasan lain.
Selain hal tersebut, kecemburuan sosial terhadap etnis Tionghoa juga dijadikan sarana provokasi oknum-oknum tidak bertangung jawab. Etnis Tionghoa yang hanya diberi tempat oleh pemerintah (orde baru) berkarya di sektor ekonomi saja, saat itu mampu menguasai perekonomian Solo sehingga timbul kecemburuan dari kaum pribumi. Tak elak, saat kerusuhan masyarakat Solo keturunan Tionghoa menjadi korban utama kerusuhan, banyak diantara mereka yang tidak berani keluar rumah saat itu dan mengalami trauma yang berkepanjangan. Lapak dan kios-kios usaha mereka pun penuh sesak dengan tulisan “orang pribumi” untuk menghindari amarah warga pribumi yang diluar kendali saat itu.
Dampak dari kerusuhan Mei 98 di Solo tak main-main, bila dibandingkan dengan Jakarta mungkin secara kuantitas masih lebih kecil namun secara prosentase bangunan yang rusak akibat kerusuhan lebih besar. Hal ini terjadi karena massa yang bergerak dari UMS menuju kota, membakar dan menjarah apa saja yang mereka temui sepanjang jalan, mulai di kawasan ekonomi jalan slamet riyadi hingga ke alun-alun utara.
Akibatnya gedung-gedung seperti bank, mall, hotel serta pertokoan hangus terbakar. Kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil hingga angkutan umum tak lepas dari aksi brutal masa yang diluar kendali. Tak ayal suasana saat itu sangat mencekam. Ibu-ibu dan anak-anak tidak berani keluar rumah, apalagi warga keturunan Tionghoa yang menadi sasaran amuk massa.
Kerusakan bangunan memang dampak yang bisa terlihat kasat mata, namun dibalik itu semua, puluhan ribu orang kehilangan mata pencahariaanya. Orang-orang yang dulu bekerja di matahari department store misalnya, selain kehilangan pekerjaan, tak sedikit dari mereka yang masih trauma dan belum bisa mendapatkan pekerjaan. Beberapa yang giatpun harus bekerja ekstra keras untuk memuluhkan kemmbali perekonomian keluarga mereka kembali.
Secara psikologis dan keamanan pun kondisi saat itu tdak menemtu, akibatnya banyak investor yang kabur. Butuh waktu yang cukup lama bagi investor untuk kembali menaruh keyakinan untuk berinvestasi di Solo.
Dimana aparat keamanan?
Kerusuhan Mei 98 di Solo melumpuhkan hamper seluruh sendi peekonomian di kota batik ini, namun banyak pihak mempertanyakan dimana dimana aparat keamanan saat itu?
“Kota Solo bisaa digunakan sebagai tes bagi pejabat, dandim, danrem serta kapolres namun saat itu tiga hari kerusuhan didiamkan saja, mungkin ini sudah diseting” ujar Sumartono sembari mengambil botol air minum kemasan.
Sumartono yang saat itu menjabat sebagai bendahara PMS mengatakan tidak ada pengamanan yang dilakukan aparat, padahal di kota Solo ini terdapat beberapa pusat koordinasi/komando mliter seperti kopasus, brimob AURI, Polres hingga Korem, namun tidak ada yang bergerak, tidak ada pengamanan. Itulah setidaknya yang diakui Sumartono, salah seorang warga keturunan Tionghoa yang saat itu merasa terancam harta dan nyawa.
Ditanya mengenai dalang kerusuhan tersebut, Sumartono hanya bisa tertawa kecil sambil berujar “tidak tahu, kita tidak bisa tahu, itu setingnya dari pusat. Kalau tahu pasti saat ini sudah diadili”
Sampai saat ini memang belum jelas upaya hokum untuk mencari maupun mengadili para ioknum dibalik kerusuhan Mei 98. Terasa sulit untuk mengungkap kasus ini karena melibatkan masa dalam jumlah yang besar dengan background mereka masing-masing.
Meskipun upaya hokum untuk menemukan pelaku dibalik kerusuhan Solo menemui jalan terjal, masyarakat harus memandang kedepan untuk menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera. PMS sendiri pasca kerusuhan bertindak cepat dengan membantu para korban yng mayorias warga keturunan Tionghoa. Bantuan pengurusan surat-surat yang terbakar seperti akte kelahiran dan surat tanah mendapat bantuan penuh dari PMS. Selain itu PMS juga memberikan beasiswa kepada anak-anak korban kerusuhan serta biaya hidup selama 3bulan pasca kerusuhan. Warga korban kerusuhan ada yang langsung bisa recovery namun banyak pula yang butuh waktu bertahun-tahun untuk lepas dari trauma kerusuhan. PMS yang merupakan organisasi social kemasyarakatan sejak 1932 ini juga memberi bantuan dana untuk para korban untuk memulai usaha lagi.
Kerusuhan Mei 98 di Solo memang telah merugikan banyak kalangan. Tragedy ini diharapkan dapat member pelajaran kepada segenap warga Solo untuk pandai-pandai menahan emosi agar tidak mudah terprovokasi sehingga kedepan peristiwa serupa tak terulang dan tercipta masyarakat Solo yang damai, aman, sejahtera dan hidup berdmpingan mesti terdapat perbedaan.
Nantikan Artikel-artikel keren tentang satu dekade kerusuhan Mei di majalah Kalpadruma edisi Juni 2008!! Free




irfan Said:
on September 14, 2008 at 7:09 pm
kayaknya tuh majalah gak jadi terbit loh.